Oleh :
Arif rahman hakim A.1510196
Finsa dwi nanda A.1510254
Surya eka tabara A.1510652
Hari yadi A.1510459
Hazim fauzan A.1510573
JURUSAN
PETERNAKAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
DJUANDA
BOGOR
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena segala rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyusun tugas Makalah Kesehatan Ternak tentang “Recording”.
Makalah tersebut merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi
dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan Ternak. Makalah
initelah diupayakan supaya dapat sesuai apa yang diharapkan
dan dengan terselesainya Makalah ini sekiranya bermanfaat bagi setiap
pembacanya. Makalah ini penulis sajikan sebagai bagian dari proses pembelajaran
agar kiranya kami sebagai mahasiswa dapat memahami betul tentang perlunya
sebuah tugas agar menjadi bahan pembelajaran.
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan kerjasama berbagai
pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan rasa syukur yang tulus dan ikhlas
kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta ucapan terima kasih kepada : Teman teman
berkat kerjasamanya sehingga Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa
Makalah ini jauh dari kesempurnaan dan dengan segala kerendahan hati kami mohon
kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga apa yang kita harapkan
dapat tercapai. Dan merupakan bahan kesempurnaan untuk makalah ini selanjutnya.
Besar harapan penulis, semoga makalah yang penulis buat ini mendapat
ridho dari Tuhan Yang Maha Esa.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar....................................................................................................
i
Daftar isi.............................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang........................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Recording................................................................................................
2
2.2
Macam Recording...................................................................................
3
2.3
Manfaat Recording.................................................................................
4
2.4
Kegunaan
Recording..............................................................................
5
Kesimpulan.........................................................................................................
6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak
pada peningkatan konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya
kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya
protein hewani juga turut meningkatkan angka perminataan produk
peternakan. Daging banyak dimanfaatkan olehmasyarakat karena mempunyai
rasayang enak dan kandungan zat gizi yangtinggi.Salah satu sumber daging
yangpaling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat Indonesia adalah ayam.Daging ayam
yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari pemotongan ayam broiler,
petelur afkir, dan ayam kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal
ternak dan merupakan komoditas unggulan.Industriayam broiler berkembang pesat
karena daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen.Daging ayam broiler mudah
didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional.Produksi daging ayam broiler
lebih besar dilakukan oleh rumah potong ayam modern dan tradisional.Proses
penanganan di RPA merupakan kunci yang menentukan kelayakan daging untuk
dikonsumsi. Perusahaan rumah potong ayam (RPA) atau tempat pendistribusian
umumnya sudah memiliki sarana penyimpanan yang memadai, namun tidak dapat
dihindari adanyakontaminasi dan kerusakan selama prosesing dan distribusi.
Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan,
menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan
kualitas produknya.Walaupun kualitas karkas tergantung pada preferensi konsumen
namun ada standar khusus yang dijadikan acuan.Karkas yang layak konsumsi harus
sesuai dengan standar SNI mulai daricara penanganan, cara pemotongan
karkas, ukuran dan mutu, persyaratan yang meliputi bahan asal, penyiapan
karkas, pengelolaan pascapanen, bahan pembantu, bahan tambahan, mutu produk
akhir hingga pengemasan.Untuk itu perlu ada penerapan manajemen yang baik sejak
masih di sektor hulu sampai ke sektor hilir.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Recording
Recordingadalah adalah catatan segala
kejadian mengenai ternak yang dipelihara yang dapat memberikan informasi yang
diperlukan untuk membuat keputusan yang objektif didasarkan atas fakta yang
ada, sehingga keputusan yang dibuat merupakan keputusan yang baik (Soetarno,
2003).Dalam pengelolaan peternakan modern, recording menjadi sangat penting.
Hal ini disebabkan karena jumlah ternak yang dikelola tidak sedikit.Banyak
sekali komponen recording yang harusnya mendapat perhatian antara lain: jumlah
populasi, jumlah pemberian pakan, jumlah produksi harian yang dihasilkan,
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, tingkat kematian (mortalitas) ternak yang
dipelihara, penyakit yang menyerang, riwayat kesehatan (medical record), obat
yang dibutuhkan, vaksinasi yang dibutuhkan dan masih banyak lainnya. Intinya
semakin banyak pencatatan yang dilakukan akan semakin baik manajemen usaha yang
di jalankan.
Sistem recording yang dilakukan dalam usaha
peternakan dapat bervariasi sesuai dengan tujuan usaha (breeding atau fattening)
dan jenis ternak yang dipelihara. Sebagai contoh, pada usaha breeding,
recording aspek-aspek reproduksi menjadi hal yang utama; sedangkan pada
usaha fattening, Average Daily Gain (ADG) merupakan parameter
yang penting dalam mengetahui tingkat pertumbuhan ternak. Jenis terak yang
dipelihara juga menentukan aspek-aspek yang dicatat dalam sistem recording
(Basuki et al., 1999).
Syarat-syarat recording usaha ternak yang baik adalah sederhana/ praktis,
lengkap, akurat, up to date, mudah dimengerti serta memerlukan waktu
yang minimum untuk mengerjakannya.
2.2 Macam Recording
Untuk memudahkan pemahaman tentang recording, maka
dibuat penggolongan recording. Secara umum recording:
a)
Identitas.
Setiap ternak diberi identitas agar lebih mudah dalam
pengenalan. Kita bisa membagi lagi identitas ini menjadi beberapa yaitu
identifikasi fisik, penandaan fisik dan penandaan tambahan. Dalam hal ini,
Identifikasi fisik meliputi ciri-ciri fisik misalnya warna bulu, konformasi
tubuh, bulu sekitar mata, tanduk, kaki, bentuk telinga, punuk, dll. Penandaan
fisik ternak dapat dibedakan menjadi semi permanen dan permanen. Penandaan
permanen adalah penandaan pada sapi yang bersifat tetap. Sedangkan semipermanen
bersifat sementara saja, dan jika sewaktu-waktu diperlukan mudah dihilangkan
atau diganti. Sedangkan penandaan tambahan adalah penandaan yang diberikan pada
sapi di lingkungan sapi tersebut hidup yang memudahkan dikenali meskipun dari
kejauhan. Sebagai contoh pemberian papan nama di atas masing-masing kandang,
berikut nama sapi, jenis sapi, kode sapi, tanggal lahir, dan asal sapi.
b)
Dokumentasi
Pada kondisi sekarang ini upaya mendokumentasikan
kegiatan sangat diperlukan tidak terkecuali untuk sapi jika memang populasinya
dalam lokasi peternakan cukup besar. Pendokumentasian sapi dapat dilakukan
melalui pembuatan sketsa atau gambar individu, profilnya, foto maupun rekaman
video. Data-data tersebut akan membantu memudahkan pengelolaan ternaknya.
Menurut Pallawarukka (2009) penggambaran atau sketsa dapat digunakan untuk
identifikasi ternak dengan penandaan warna yang unik atau spesifik.
c)
Catatan Khusus.
Dalam pengelolaan peternakan besar sangat diperlukan
pencatatan detail bagi setiap individu sapi, sehingga diperlukan pencatatan
khusus. Yang termasuk pencatatan khusus meliputi nama sapi, tanggal lahir,
nomor kode ternak, asalnya, berat badannya, berat lahir, berat sapih, bangsa,
juga kesehatannya. Selain itu, catatan perkawinan atau inseminasi buatan
termasuk dalam hal ini. Catatan ini harus memuat segala hal lengkap agar
memudahkan bagi tenaga medis atau perawat ternak yang lain melakukan penangan
dan mengurangi terjadinya kesalahan penanganan.
d)
Sertifikat Ternak.
Recording
yang terakhir ini menjadi penting keberadaannya jika terkait dengan pembibitan
terutama di UPT/ perusahaan pembibitan, apalagi jika sapi berasal dari
impor. Ini penting, karena untuk memudahkan pelacakan terhadap tetuanya
berkualitas unggul atau tidak, memudahkan seleksi, menjaga penyebaran bibit
semen di lapangan agar tidak terjadi inbreeding. Dalam sertifikat ternak ini
yang sangat penting harus memuat breeding, asal-usul tetua pejantan
dan betinanya, tanggal lahir. Dengan sertifikat ini, akan menambah kepercayaan
dan kepuasan pengguna bibit sapi.
2.3 Manfaat Recording
Berikut ini
beberapa beberapa manfaat recording:
1. Memudahkan pengenalan terhadap ternak,
terutama recording yang terpasang langsung pada ternak ataupun di dekat ternak
seperti ear tag, pengkodean ternak, penamaan, papan nama, foto, pemberian
ciri-ciri pada ternak dalam jumlah populasi yang besar.
2. Memudahkan dalam melakukan penangan,
perawatan maupun pengobatan pada ternak, berdasarkan catatan-catatan yang
dimiliki.
3. Memudahkan manajemen pemeliharaan terutama
jika ternak tersebut membutuhkan perlakuan khusus.
4. Menghindari dan mengurangi kesalahan
manajemen pemeliharaan, pengobatan, pemberian pakan ataupun produksi semen.
5. Memudahkan dalam melakukan seleksi ternak
sehingga didapatkan ternak yang unggul, melalui sertifikat ternak, catatan
kesehatan, berat lahir, dll.
6. Menghindari terjadinya inbreeding.
7. Menjadikan pekejaan lebih efektif dan efisien
terutama dalam sebuah usaha peternakan yang besar (sunardi).
2.4 Kegunaan Recording
a)
Mengetahui jumlah populasi akhir.
Ini perlu karena bagaimanapun letak keuntungan ditentukan oleh jumlah populasi
akhir. Dengan diketahuinya populasi akhir kita juga akan mengetahui jumlah
ternak yang mati, hilang, dan sebagainya selama masa pemeliharaan
b)
Untuk bahan pertimbangan dalam
penilaian tata laksana yang sedang dilaksanakan. Seperti tingkat pertambahan
berat badan (PBB), Feed Consumtion Rate (FCR), jumlah produksi, kesehatan
ternak
c)
Sebagai pertimbangan dalam mengambil
keputusan sehari-hari
d)
Sebagai langkah awal dalam menyusun
rencana jangka panjang
e)
Bagi pemerintah berguna untuk
penyusunan kebijakan dalam bidang peternakan seperti apakah diperlukan import
untuk pemenuhan kebutuhan sehingga produksi tetap seimbang
f)
Mempermudah peternak melakukan
evaluasi, mengontrol dan memprediksi tingkat keberhasilan usaha
g)
Bagi perguruan tinggi data recording
bisa sebagai bahan penelitian
Di negara berkembang recording belum banyak di lakukan
karena beberapa hal :
·
Rendahnya
tingkat pendidikan yang dimiliki oleh peternak
·
Kurangnya
perhatian peternak terhadap sistem recording
·
Sedikitnya
jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak
·
Belum
menjalankan program pemuliaan ternak
KESIMPULAN

1 komentar:
Thanks Infonya, admin.
Untuk mencari referensi website pertanian dan perternakan saya sarankan untuk mengunjungi website ini ya min.
Fredikurniawan.com
ilmupeternakan.web.id
Posting Komentar