Senin, 23 April 2018

Makalah Teknologi Pengolahan Limbah


MAKALAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK
CANGKUPAN KONSEP ZERO WASTE PRODUCTION SYSTEM





Oleh: 

Finsa Dwinanda H (A.1510254)
Ilham Akbar Wahidi (A.1510835)
Cakra Adhy Guna Soeryadi (A.1510825)
Surya Eka Tabara (A.1510652)
Mukhlishin (A.1410551)

                                   

PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS DJUANDA
BOGOR
2017



KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya Penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang Cangkupan konsep zero waste ini. Makalah ini diajukan sebagai bahan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Teknologi pengolahan limbah ternak.
Dalam penyusunan makalah ini selain meninjau dari beberapa referensi yang berkaitan dengan judul yang dibahas, penyusun banyak dibantu dan didukung oleh berbagai pihak.
Penyusun menyadari dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak dan dapat membantu menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata penyusun berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembacanya.


Bogor, Oktober 2017


Penyusun






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................       i
DAFTAR ISI.....................................................................................................      ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................      1
......... 1.2 RumusanMasalah.................................................................................      2
1.3 Tujuan..................................................................................................      2           
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Zero waste..............................................................................      3                       
2.2 JenisLimbah Usaha Peternak...............................................................      4
2.3 DampakLimbahPeternakan.................................................................      5
2.4 PermasalahanCangkupanPengolahanLimbah......................................      6
2.5 PemanfaatanUntukPakan Dan Media Cacing.....................................      7
2.6 PemanfaatanSebagaiPupukOrganik....................................................      8
2.7 PemanfaatanUntuk Biogas..................................................................    11

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..........................................................................................    13
3.2 Saran....................................................................................................    13
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 14







BAB I
PENDAHULUAN


1.1.LatarBelakang

Usaha peternakan mempunyai prospek untuk dikembangkan, karena tingginya permintaan akan produk peternakan. Usaha peternakan juga memberi keuntungan yang cukup tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di perdesaaan di Indonesia. Namun demikian, sebagai mana usahalainnya, usaha peternakan jugamenghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh karena itu, seiring dengan kebijakan otonomi, maka pemgembangan usaha peternakan yang dapat meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga kenyamanan permukiman masyarakatnya. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.
Kebijakan otonomi daerah perlu diantisipasi oleh aparat pemerintah daerah, khususnya di kabupaten/kota yang menjadi ujung tombak pembangunan, sehingga kabupaten/kota dapat berbenah diri dalam menggali segala potensi baik potensi sumberdaya alam maupun potensi sumberdaya manusia. Dengan demikian potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada di daerah tersebut dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam presfektif ekonomi makro, peternakan merupakan sumber pangan yang berkualitas, misalnya daging atau pun susu merupakan bahan baku industry pengolahan pangan, di mana dapat menghasilkan abon, dendeng, bakso, sosis, keju, mentega ataupun krim dan juga dapat menghasilkan kerajinan-kerajinan kulit tanduk ataupun tulang. Jadi dari semua kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan pertanian dan peternakan dapat menciptakan lapangan kerja. Pembangunan pertanian dalam konteks otonomi daerah yang disesuaikan dengan permintaan pasar global sehingga pengembangan system pertanian terpadu sangatlah menjanjikan, meskipun tetap harus memperhatikan aspek agro ekosistem wilayah dan sosiokultur masyarakatnya (Sofyadi, 2005).
Selama ini banyak keluhan masyarakat akan dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dariusahanya, bahkan ada yang membuang limbah usahanya kesungai, sehingga terjadi pencemaranlingkungan. Limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti feces, urin, sisapakan, serta air dari pembersihan ternak dan menimbulkan pencemaran yang memicu protes dari warga sekitar. Baik berupa bau tidak enak yang menyengat, sampai keluhan gatal-gatal ketika mandi di sungai yang tercemar limbah peternakan.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka upaya mengatasi limbah ternak yang selama ini dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan perlu ditangani dengan cara yang tepat sehingga dapat memberi manfaat lain berupa keuntungan ekonomis dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan bukan saja Karena tuntutan akan lingkungan yang nyaman tetapi juga karena pengembangan peternakan mutlak memperhatika nkualitas lingkungan, sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah bagi masyarakat di sekitarnya.
     
1.2 RumusanMasalah
1.   Pengertian pencemaran kotoran ternak-ternak ?
3.   Bagaimanakah pengaruh kotoran ternak terhadap lingkungan hidup?
4.   Cangkupan pengelolaan kotoran ternak yang dapat di lakukan?
5.   Bagaimana proses pengolahan limbah peternakan?


1.3 TujuanPenulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana Cangkupan penanganan dan pemanfaatan limbah peternakan.





       
BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Konsep Zero Waste

Zero Waste adalah mulai dari produksi sampai berakhirnya suatu proses produksi dapat dihindari terjadi produksi limbah atau diminimalisir terjadinya limbah. Konsep Zero Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).
Produksi bersih merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologi. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada berbagai aktivitas termasuk juga kegiatan  skala rumah tangga.
                        Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam penangan sampah misalnya dengan menerapkan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan 4-R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip 5-R  selain 4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan  replant (menanam kembali). Penanganan sampah 4-R sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif, sehingga diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.
Prinsip reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin lakukan minimisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
Prinsip reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Hal ini dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
            Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang-barang yang  sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang  bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
            Prinsip replace dilakukan dengan cara teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga teliti agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan Styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa diurai secara alami.
Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau lingkungan sekitar baik lingkungan rumah,  perkantoran, pertokoan, lahan kosong dan lain-lain. Penanaman kembali ini sebagian menggunakan barang atau bahan yang diolah dari sampah.

2.2. Jenis Limbah Usaha Peternak
Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya.Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan lain-lain (Sihombing, 2000).Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang dihasilkan semakin meningkat.
Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar usaha, tipe usaha dan lantai kandang. Kotoran sapi yang terdiri dari feces dan urine merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, dan domba. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi menghasilkan 25 kg feses (Sihombing, 2000).
Menurut Soehadji (1992), limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan ternak).Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat).Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.
            Pencemaran karena gas metan menyebabkan bau yang tidak enak bagi lingkungan sekitar. Gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia. Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon, dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat. Apppalagi di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan (Suryahadi dkk., 2002).

2.3. Dampak Limbah Peternakan
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya 5.000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x 10 7 m3air. Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat.
Kehadiran limbah ternak dalam keadaan keringpun dapat menimbulkan pencemaran yaitu dengan menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari 6000 mg/m3, jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir untuk kesegaran udara di lingkungan (3000 mg/m3)
Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kadar nitrogen. Senyawa nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air (Farida, 1978).

Hasil penelitian dari limbah cair Rumah Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta yang dialirkan ke sungai Buaran mengakibatkan kualitas air menurun, yang disebabkan oleh kandungan sulfida dan amoniak bebas di atas kadar maksimum kriteria kualitas air. Selain itu adanya Salmonella spp. yang membahayakan kesehatan manusia.
Tinja dan urine dari hewan yang tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit, misalnya saja penyakit anthrax melalui kulit manusia yang terluka atau tergores.Spora anthrax dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum dimasak yang mengandung spora. Kasus anthrax sporadik pernah terjadi di Bogor tahun 2001 dan juga pernah menyerang Sumba Timur tahun 1980 dan burung unta di Purwakarta tahun 2000 (Soeharsono, 2002).


2.4 Permasalahan cangkupan pengolahan limbah

Ø  2.3.1 Skil peternak dalam pengolahan limbah
Penerapan suatu teknologi kepada peternak sangat erat hubungannya dengan skill peternak dan tingkat kerumitan pengoperasian teknologi tersebut. Sehingga\ keberhasilan penerapan teknologi tergantung pada kesesuaian atara kemampuan peternak dengan teknologi yang akan diterapkan. Limbah ternak sapi potong pada dasarnya dapat menjadi bahan baku untuk pembuatan biogas, pupuk kompos dan media cacing tanah, biourine dll. Pengolahan limbah ini menjadi gas untuk bahan bakar kompor telah dimodifikasi sedemikaian sederhana yang disesuaikan dengan karakteristik peternak di Sulawesi Selatan. Peternak yang memiliki ternak 2-3 ekor dengan pemeliharaan intensif dapat membuat biogas dengan digester 1 m3 yang terbuat dari fiber yang
dapat dibeli pada lokasi masing-masing, cara pembuatannya sangat sederhana dan teknik pembuatannya dapat dilakukan sendiri oleh peternak (Baba, S. 2007). Sedangkan pengolahan feces ternak menjadi kompos yang berkualitas tinggi pada dasarnya peternak belum mampu melakukannya secara mandiri disebabkan karena tidak adanya standar kualitas yang dimiliki peternak, misalnya tidak adanya akses peternak untuk melakukan uji kualitas terhadap hasil produksinya utuk mengetahui apakah hasil produksinya sudah memenuhi kualitas kompos yang dipersyaratkan.Pengolahan urine sapi menjadi biourine selama ini belum dilakukan karenaterkendala dengan minimnya pengetahuan terhadap teknologi ini, bahkan belum pernah ada penguji cobaan yang dilakukan dalam hal pemanfaatan urine sapi tersebut.

Ø  2.3.2 Bahan Baku Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah juga terkendala pada bahan baku, dimana akses masyarakat untuk mendapatkan starter pada pengolahan kompos sangat terbatas, sehingga pengolahan kompos yang dilakukan hanya dalam skala kecil. Bukan hanya itu tetapi peternak terkendala pada pengumpulan feces sebagai bahan baku dengan skala besar karena peternakan yang dilakukan masih skala kecil dan sistim pemeliharaan yang sebagian besar taradisional dan semi intensif. Pengumpulan feces ini sebenarnya bisa dilakukan jika feces yang selama ini tidak berharga bahkan menjadi masalah bagi peternak dapat dihargai.Feces yang dikumpulkan peternak ini dapat dihargai dengan Rupiah yaitu dengan harga Rp 5.000/ karung atau Rp 100- Rp200/kg bahkan peternak\ rela mengumpulkan ternak setelah membersihkan kandangnya dengan imbalanpelayanan kesehatan ternak dan IB atau obat-obatan ternak. Sedangkan untukpengadaan bahan baku stater pengurai untuk mempercepat proses compostingsebenarnya dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan limbah yang ada disekitarnyaatau limbah rumah tangganya menjadi MOL (Mikro Organisme Lokal) (Setiawan, BS.2010)

Penanganan limbah peternakan
Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak.Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media berbagai tujuan (Sihombing, 2002).

2.5. Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah
Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat.Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak.Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut.Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob.
Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).
2.6. Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik
Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk organik.Penggunaan pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki struktur tanah tersebut.
Kandungan Nitrogen, Posphat, dan Kalium sebagai unsur makro yang diperlukan tanaman, tersaji dalam tabel berikut.
Kadar N, P dan K dalam Pupuk Kandang dari Beberapa Jenis Ternak
Jenis Pupuk Kandang
Kandungan (%)
N
P2O5
K2O
Kotoran Sapi
Kotoran Kuda
Kotoran Kambing
Kotoran Ayam
Kotoran Itik
0.6
0.4
0.5
1.6
1.0
0.3
0.3
0.3
0.5
1.4
0.1
0.3
0.2
0.2
0.6
Sumber : Nurhasanah, Widodo, Asari, dan Rahmarestia, 2006
Kotoran ternak dapat juga dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut .

·         Bahan Bahan Pembuatan Pupuk Kompos
a) Feses sapi 80%
b) Serbuk dan kayu sabut kelapa 9%
c) Abu dapur 10%
d) Kapur Pertanian 0,75%
e) Stardec 0,25%

·         Cara Pembuatan Pupuk Kompos
a) Mencampur bahan utama (feses sapi, serbuk dan kayu sabut kelapa, abu dapur, kapur pertanian, dan stardec) secara merata atau ditumpuk membentuk lapisan setinggi 30 cm.
b) Mengulang menumpuk seperti pada tahap pertama sampai ketinggian 1,5 m.
c) Hari pertama, mensisir tumpukan bahan tersebut, menaburi dengan stardec sebanyak 0,25% atau 2,5 Kg untuk capuran 1 ton.
d) Menumpuk bahan dengan ketinggian minimal 80 cm.
e) Membiarkan tumpukan selama 1 minggu (7 hari) tanpa ditutup, namun tetap terjaga supaya terhindar dari panas da hujan.
f) Hari ketujuh campuran bahan dibalik supaya diperoleh suplai oksigen dalam proses composing.
g) Melakukan pembalikan ini pada hari ke -14, 21 dan 28.



Cara Membuat Pupuk Organik Cair Urin Sapi
1. Bahan Pembuatan Pupuk Organik Cair Urin Sapi
·          a) Urine sapi 100 liter
b) Tepung lengkuas 1 Kg
c) Temu ireng 1 Kg
d) Tepung jahe 1 Kg
e) Tepung Kencur 1Kg
f) Tepung Kunir 1 Kg
g) Daun sambiloto 1 Kg
h) Tetes 2 liter
i) Stimulator plus 100 ml
j) Drum

2. Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair Urin Sapi
Ø Menyiapkan bahan bahan. 
Ø Memasukkan urine sapi kedalam drum
Ø Memasukkan empon empon,  tetes dan stimulator plus kedalam drum sambil mengaduk sampai homogen selama 30 menit.
Ø Menutup drum dengan rapat, fermentasi selama 14 hari
Ø Selama proses fermentasi, mengaduk Pupuk Cair  setiap 2 kali sehari pagi dan sore hari
Hari ke 14 proses fermentasi  selesai, pupuk cair dapat digunakan sebagai pupuk atau pestisida cair sesuai dengan dosis penggunaan.


2.7. Pemanfaatan Untuk Biogas
Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi.Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio.Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas.Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi.Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K .
Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2) (Simamora, 1989).Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari.




Cara Membuat Biogas Dari Feses Sapi

1. Bahan Pembuatan Biogas Feses Sapi 
·         Feses  sapi  18,9% Kg
Air 7 liter
EM4 210 gram
2. Cara Pembuatan Biogas Feses Sapi
·         Memasukkan feses ke tempat penampungan sementara dan tambahkan air sampai terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 dan aduk.
·         Lumpur dari bak sementara tadi dialirkan ke digester. Pengisian pertama pada digester  hingga penuh.
·         Menambahkan EM4 sejumlah 1 liter.
·         Setelah penuh, kran gas ditutup supaya sistem fermentasi dapat berlangsung. 
·         Digester secara continue di isi lumpur kotoran sapi sehingga dapat menghasilkan biogas yang maksimal.
·         Kompos yang keluar dari digester sitampung dibak penampungan kompos. Apabila mau dikemas aka harus dikeringkna terlebih dahulu.





BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan pembahasan sebagai berikut:
1.    Limbah usaha peternakan berpeluang mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Namun memperhatikan komposisinya, kotoran ternak masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, media pertumbuhan cacing, pupuk organik, gas bio, dan brike tenergi.
2.    Pemanfaatan limbah ternakakan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan baik pencemaran air, tanah, maupun udara. Pemanfaatan tersebut jug amenghasilkan nilai tambah yang bernilai ekonomis.
3.    Potensi bahan baku untuk pengolahan limbah sangat besar namun belum dimanfaatkan
secara maksimal


3.2 Saran
Peternak kecil harus banyak mencari tahu tentang bagaimana cara pengolahan limbah peternakanya agar menghasilkan pendapatan tambahan dari pengolahan limbah tersebut  dan perlunya dukungan pemerintah agar cangkupa nuntuk pengolahan limbah peternakan menjadi merata.





DAFTAR PUSTAKA


Baba, S. 2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Biogas di Sulawesi Selatan. Laporan
Penelitian Kerjasama LIPI denganYayasan Al-Basyard Maros.
Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran Limbah Organik Lain Sebagai  Pakan atau Media Produksi Kokon dan Biomassa Cacing Tanah Eiseniafoetidasavigry.Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan MakananTernak. IPB, Bogor.
Setiawan, BS. 2010. Membuat Pupuk Kandang Secara Cepat. Tim Penulis ETOSA IPB, Penebar
            Swadaya, Jakarta.
Sihombing D T H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan.Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor
Sihombing. 2002. Pemanfaatan Limbah Ternak Ruminansia untuk Mengurangi
            Pencemaran Lingkungan. Makalah. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Soehadji, 1992.Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Soeharsono, 2002.Anthrax sporadik, ta kperlu panik.Dalam kompas, 12 September 2002, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/12/iptek/anth29.htm (diakses 13 Oktober 2017).

Tidak ada komentar: