MAKALAH
TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK
CANGKUPAN KONSEP ZERO WASTE
PRODUCTION SYSTEM
Oleh:
Finsa
Dwinanda H (A.1510254)
Ilham Akbar
Wahidi (A.1510835)
Cakra Adhy
Guna Soeryadi (A.1510825)
Surya Eka
Tabara (A.1510652)
Mukhlishin
(A.1410551)
PROGRAM STUDI
PETERNAKAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
DJUANDA
BOGOR
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan
puji dan syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya Penyusun dapat
menyelesaikan makalah tentang Cangkupan konsep zero waste ini. Makalah ini diajukan
sebagai bahan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Teknologi pengolahan limbah
ternak.
Dalam penyusunan
makalah ini selain meninjau dari beberapa referensi yang berkaitan dengan judul
yang dibahas, penyusun banyak dibantu dan didukung oleh berbagai pihak.
Penyusun menyadari dalam makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari berbagai pihak dan dapat membantu menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata
penyusun berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembacanya.
Bogor,
Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
......... 1.2 RumusanMasalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan.................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep
Zero waste.............................................................................. 3
2.2
JenisLimbah Usaha Peternak............................................................... 4
2.3
DampakLimbahPeternakan................................................................. 5
2.4 PermasalahanCangkupanPengolahanLimbah...................................... 6
2.5 PemanfaatanUntukPakan Dan
Media Cacing..................................... 7
2.6 PemanfaatanSebagaiPupukOrganik.................................................... 8
2.7 PemanfaatanUntuk
Biogas.................................................................. 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 13
3.2 Saran.................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LatarBelakang
Usaha peternakan mempunyai prospek untuk dikembangkan, karena tingginya
permintaan akan produk peternakan. Usaha peternakan juga memberi keuntungan
yang cukup tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di
perdesaaan di Indonesia. Namun demikian, sebagai mana usahalainnya, usaha peternakan
jugamenghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh karena itu,
seiring dengan kebijakan otonomi, maka pemgembangan usaha peternakan yang dapat
meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk
menjaga kenyamanan permukiman masyarakatnya. Salah satu upaya kearah itu adalah
dengan memanfaatkan limbah peternakan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha
tersebut.
Kebijakan otonomi daerah perlu diantisipasi oleh aparat pemerintah
daerah, khususnya di kabupaten/kota yang menjadi ujung tombak pembangunan,
sehingga kabupaten/kota dapat berbenah diri dalam menggali segala potensi baik potensi
sumberdaya alam maupun potensi sumberdaya manusia. Dengan demikian potensi sumberdaya
alam dan sumberdaya manusia yang ada di daerah tersebut dapat dimanfaatkan seoptimal
mungkin untuk kepentingan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam presfektif ekonomi makro, peternakan merupakan sumber
pangan yang berkualitas, misalnya daging atau pun susu merupakan bahan baku
industry pengolahan pangan, di mana dapat menghasilkan abon, dendeng, bakso,
sosis, keju, mentega ataupun krim dan juga dapat menghasilkan kerajinan-kerajinan
kulit tanduk ataupun tulang. Jadi dari semua kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya
dengan pertanian dan peternakan dapat menciptakan lapangan kerja. Pembangunan
pertanian dalam konteks otonomi daerah yang disesuaikan dengan permintaan pasar
global sehingga pengembangan system pertanian terpadu sangatlah menjanjikan,
meskipun tetap harus memperhatikan aspek agro ekosistem wilayah dan sosiokultur
masyarakatnya (Sofyadi, 2005).
Selama ini banyak keluhan masyarakat akan dampak buruk dari
kegiatan usaha peternakan karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan
limbah dariusahanya, bahkan ada yang membuang limbah usahanya kesungai,
sehingga terjadi pencemaranlingkungan. Limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas
peternakan seperti feces, urin, sisapakan, serta air dari pembersihan ternak dan
menimbulkan pencemaran yang memicu protes dari warga sekitar. Baik berupa bau tidak
enak yang menyengat, sampai keluhan gatal-gatal ketika mandi di sungai yang
tercemar limbah peternakan.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka upaya mengatasi limbah
ternak yang selama ini dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan
perlu ditangani dengan cara yang tepat sehingga dapat memberi manfaat lain
berupa keuntungan ekonomis dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan
bukan saja Karena tuntutan akan lingkungan yang nyaman tetapi juga karena pengembangan
peternakan mutlak memperhatika nkualitas lingkungan, sehingga keberadaannya tidak
menjadi masalah bagi masyarakat di sekitarnya.
1.2 RumusanMasalah
1. Pengertian pencemaran kotoran ternak-ternak ?
3. Bagaimanakah
pengaruh kotoran ternak terhadap lingkungan hidup?
4. Cangkupan pengelolaan
kotoran ternak yang dapat di lakukan?
5. Bagaimana proses pengolahan limbah peternakan?
1.3 TujuanPenulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana Cangkupan
penanganan dan pemanfaatan limbah peternakan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Zero Waste
Zero Waste adalah mulai dari
produksi sampai berakhirnya suatu proses produksi dapat dihindari terjadi
produksi limbah atau diminimalisir terjadinya limbah. Konsep Zero Waste
ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).
Produksi bersih merupakan salah satu pendekatan untuk
merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan
produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan
menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus
ekologi. Prinsip
ini juga dapat diterapkan pada berbagai aktivitas termasuk juga kegiatan
skala rumah tangga.
Prinsip-prinsip yang dapat
diterapkan dalam penangan sampah misalnya dengan menerapkan prinsip 3-R, 4-R
atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara
reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang
sampah), sedangkan 4-R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip
5-R selain 4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan replant
(menanam kembali). Penanganan sampah 4-R sangat penting untuk dilaksanakan
dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif,
sehingga diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.
Prinsip
reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin lakukan minimisasi barang atau
material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material,
semakin banyak sampah yang dihasilkan.
Prinsip
reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa
dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Hal ini
dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa
mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang.
Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak
industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi
barang lain.
Prinsip replace dilakukan dengan cara teliti
barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa
dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga teliti agar kita hanya
memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, ganti kantong
keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan Styrofoam
karena kedua bahan ini tidak bisa diurai secara alami.
Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau
lingkungan sekitar baik lingkungan rumah, perkantoran, pertokoan, lahan
kosong dan lain-lain. Penanaman kembali ini sebagian menggunakan barang atau
bahan yang diolah dari sampah.
2.2. Jenis Limbah Usaha Peternak
Limbah
ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan
ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya.Limbah
tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa
makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi
rumen, dan lain-lain (Sihombing, 2000).Semakin berkembangnya usaha peternakan,
limbah yang dihasilkan semakin meningkat.
Total
limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar usaha,
tipe usaha dan lantai kandang. Kotoran sapi yang terdiri dari feces dan urine
merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure
dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, dan domba.
Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg
limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi menghasilkan 25 kg feses
(Sihombing, 2000).
Menurut
Soehadji (1992), limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari
suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas,
maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan
atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari
pemotongan ternak).Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau
dalam fase cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat).Sedangkan
limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.
Pencemaran karena gas metan
menyebabkan bau yang tidak enak bagi lingkungan sekitar. Gas metan (CH4)
berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia. Gas metan ini adalah salah
satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon,
dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat. Apppalagi di Indonesia, emisi
metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas
hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan
kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan (Suryahadi dkk., 2002).
2.3. Dampak Limbah Peternakan
Limbah
ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong
kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studi mengenai
pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total sapi dengan berat
badannya 5.000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat mencemari 9.084 x
10 7 m3air. Selain melalui air, limbah
peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai media
untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan
media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara
kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat.
Kehadiran
limbah ternak dalam keadaan keringpun dapat menimbulkan pencemaran yaitu dengan
menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan sapi yang paling
hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari
6000 mg/m3, jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir
untuk kesegaran udara di lingkungan (3000 mg/m3)
Salah satu akibat dari pencemaran
air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kadar nitrogen. Senyawa
nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana
kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai
akibat terjadinya proses eutrofikasi,
penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang
terjadi di dalam air yang dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air
(Farida, 1978).
Hasil penelitian dari limbah cair
Rumah Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta yang dialirkan ke sungai Buaran
mengakibatkan kualitas air menurun, yang disebabkan oleh kandungan sulfida dan
amoniak bebas di atas kadar maksimum kriteria kualitas air. Selain itu
adanya Salmonella spp. yang
membahayakan kesehatan manusia.
Tinja dan
urine dari hewan yang tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit,
misalnya saja penyakit anthrax melalui kulit manusia yang terluka atau
tergores.Spora anthrax dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum
dimasak yang mengandung spora. Kasus anthrax sporadik pernah terjadi di Bogor
tahun 2001 dan juga pernah menyerang Sumba Timur tahun 1980 dan burung unta di
Purwakarta tahun 2000 (Soeharsono, 2002).
2.4
Permasalahan cangkupan pengolahan limbah
Ø
2.3.1 Skil peternak dalam
pengolahan limbah
Penerapan
suatu teknologi kepada peternak sangat erat hubungannya dengan skill peternak
dan tingkat kerumitan pengoperasian teknologi tersebut. Sehingga\ keberhasilan
penerapan teknologi tergantung pada kesesuaian atara kemampuan peternak dengan
teknologi yang akan diterapkan. Limbah ternak sapi potong pada dasarnya dapat
menjadi bahan baku untuk pembuatan biogas, pupuk kompos dan media cacing tanah,
biourine dll. Pengolahan limbah ini menjadi gas untuk bahan bakar kompor telah
dimodifikasi sedemikaian sederhana yang disesuaikan dengan karakteristik
peternak di Sulawesi Selatan. Peternak yang memiliki ternak 2-3 ekor dengan
pemeliharaan intensif dapat membuat biogas dengan digester 1 m3 yang terbuat
dari fiber yang
dapat
dibeli pada lokasi masing-masing, cara pembuatannya sangat sederhana dan teknik
pembuatannya dapat dilakukan sendiri oleh peternak (Baba, S. 2007). Sedangkan
pengolahan feces ternak menjadi kompos yang berkualitas tinggi pada dasarnya
peternak belum mampu melakukannya secara mandiri disebabkan karena tidak adanya
standar kualitas yang dimiliki peternak, misalnya tidak adanya akses peternak
untuk melakukan uji kualitas terhadap hasil produksinya utuk mengetahui apakah
hasil produksinya sudah memenuhi kualitas kompos yang dipersyaratkan.Pengolahan
urine sapi menjadi biourine selama ini belum dilakukan karenaterkendala dengan
minimnya pengetahuan terhadap teknologi ini, bahkan belum pernah ada penguji
cobaan yang dilakukan dalam hal pemanfaatan urine sapi tersebut.
Ø
2.3.2 Bahan Baku
Pengolahan Limbah
Pengolahan
limbah juga terkendala pada bahan baku, dimana akses masyarakat untuk
mendapatkan starter pada pengolahan kompos sangat terbatas, sehingga pengolahan
kompos yang dilakukan hanya dalam skala kecil. Bukan hanya itu tetapi peternak
terkendala pada pengumpulan feces sebagai bahan baku dengan skala besar karena
peternakan yang dilakukan masih skala kecil dan sistim pemeliharaan yang
sebagian besar taradisional dan semi intensif. Pengumpulan feces ini sebenarnya
bisa dilakukan jika feces yang selama ini tidak berharga bahkan menjadi masalah
bagi peternak dapat dihargai.Feces yang dikumpulkan peternak ini dapat dihargai
dengan Rupiah yaitu dengan harga Rp 5.000/ karung atau Rp 100- Rp200/kg bahkan
peternak\ rela mengumpulkan ternak setelah membersihkan kandangnya dengan
imbalanpelayanan kesehatan ternak dan IB atau obat-obatan ternak. Sedangkan
untukpengadaan bahan baku stater pengurai untuk mempercepat proses
compostingsebenarnya dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan limbah yang ada
disekitarnyaatau limbah rumah tangganya menjadi MOL (Mikro Organisme Lokal)
(Setiawan, BS.2010)
Penanganan limbah peternakan
Limbah
peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah tersebut
dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak.Limbah
ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk
dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein,
lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau
biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances).
Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik,
energi dan media berbagai tujuan (Sihombing, 2002).
2.5. Pemanfaatan Untuk Pakan
dan Media Cacing Tanah
Sebagai
pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN,
vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat
makanan esensial agar dapat hidup sehat.Limbah feses mengandung 77 zat atau
senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak.Untuk itu
pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih
lanjut.Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk
penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob.
Penggunaan
feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan
biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik
lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar
50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).
2.6. Pemanfaatan Sebagai Pupuk
Organik
Pemanfaatan
limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat
dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk organik.Penggunaan
pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan
unsur hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan
memperbaiki struktur tanah tersebut.
Kandungan
Nitrogen, Posphat, dan Kalium sebagai unsur makro yang diperlukan tanaman,
tersaji dalam tabel berikut.
Kadar N, P
dan K dalam Pupuk Kandang dari Beberapa Jenis Ternak
|
Jenis Pupuk Kandang
|
Kandungan (%)
|
||
|
N
|
P2O5
|
K2O
|
|
|
Kotoran Sapi
Kotoran Kuda
Kotoran Kambing
Kotoran Ayam
Kotoran Itik
|
0.6
0.4
0.5
1.6
1.0
|
0.3
0.3
0.3
0.5
1.4
|
0.1
0.3
0.2
0.2
0.6
|
Sumber : Nurhasanah,
Widodo, Asari, dan Rahmarestia, 2006
Kotoran
ternak dapat juga dicampur dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses
pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos tersebut .
·
Bahan Bahan Pembuatan Pupuk Kompos
a) Feses sapi 80%
b) Serbuk dan kayu sabut kelapa 9%
c) Abu dapur 10%
d) Kapur Pertanian 0,75%
e) Stardec 0,25%
a) Feses sapi 80%
b) Serbuk dan kayu sabut kelapa 9%
c) Abu dapur 10%
d) Kapur Pertanian 0,75%
e) Stardec 0,25%
·
Cara Pembuatan Pupuk Kompos
a) Mencampur bahan utama (feses sapi, serbuk dan kayu sabut kelapa, abu dapur, kapur pertanian, dan stardec) secara merata atau ditumpuk membentuk lapisan setinggi 30 cm.
b) Mengulang menumpuk seperti pada tahap pertama sampai ketinggian 1,5 m.
c) Hari pertama, mensisir tumpukan bahan tersebut, menaburi dengan stardec sebanyak 0,25% atau 2,5 Kg untuk capuran 1 ton.
d) Menumpuk bahan dengan ketinggian minimal 80 cm.
e) Membiarkan tumpukan selama 1 minggu (7 hari) tanpa ditutup, namun tetap terjaga supaya terhindar dari panas da hujan.
f) Hari ketujuh campuran bahan dibalik supaya diperoleh suplai oksigen dalam proses composing.
g) Melakukan pembalikan ini pada hari ke -14, 21 dan 28.
a) Mencampur bahan utama (feses sapi, serbuk dan kayu sabut kelapa, abu dapur, kapur pertanian, dan stardec) secara merata atau ditumpuk membentuk lapisan setinggi 30 cm.
b) Mengulang menumpuk seperti pada tahap pertama sampai ketinggian 1,5 m.
c) Hari pertama, mensisir tumpukan bahan tersebut, menaburi dengan stardec sebanyak 0,25% atau 2,5 Kg untuk capuran 1 ton.
d) Menumpuk bahan dengan ketinggian minimal 80 cm.
e) Membiarkan tumpukan selama 1 minggu (7 hari) tanpa ditutup, namun tetap terjaga supaya terhindar dari panas da hujan.
f) Hari ketujuh campuran bahan dibalik supaya diperoleh suplai oksigen dalam proses composing.
g) Melakukan pembalikan ini pada hari ke -14, 21 dan 28.
Cara Membuat Pupuk Organik Cair Urin Sapi
1. Bahan Pembuatan Pupuk Organik
Cair Urin Sapi
·
a) Urine sapi 100
liter
b) Tepung lengkuas 1 Kg
c) Temu ireng 1 Kg
d) Tepung jahe 1 Kg
e) Tepung Kencur 1Kg
f) Tepung Kunir 1 Kg
g) Daun sambiloto 1 Kg
h) Tetes 2 liter
i) Stimulator plus 100 ml
j) Drum
b) Tepung lengkuas 1 Kg
c) Temu ireng 1 Kg
d) Tepung jahe 1 Kg
e) Tepung Kencur 1Kg
f) Tepung Kunir 1 Kg
g) Daun sambiloto 1 Kg
h) Tetes 2 liter
i) Stimulator plus 100 ml
j) Drum
2. Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair
Urin Sapi
Ø
Menyiapkan bahan bahan.
Ø Memasukkan urine sapi kedalam drum
Ø Memasukkan empon empon, tetes
dan stimulator plus kedalam drum sambil mengaduk sampai homogen selama 30
menit.
Ø Menutup drum dengan rapat,
fermentasi selama 14 hari
Ø Selama proses fermentasi, mengaduk
Pupuk Cair setiap 2 kali sehari pagi dan sore hari
Hari ke 14 proses fermentasi selesai, pupuk cair dapat digunakan sebagai pupuk atau pestisida cair sesuai dengan dosis penggunaan.
Hari ke 14 proses fermentasi selesai, pupuk cair dapat digunakan sebagai pupuk atau pestisida cair sesuai dengan dosis penggunaan.
2.7. Pemanfaatan Untuk Biogas
Permasalahan
limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan
yang memiliki nilai yang lebih tinggi.Salah satu bentuk pengolahan yang dapat
dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk
menghasilkan bahan bakar gasbio.Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk
digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas.Ternak ruminansia mempunyai
sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem
pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput
atau hijauan berserat tinggi.Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia,
khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan
hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32%
hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total
nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K .
Gasbio
adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil
fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan
adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2)
(Simamora, 1989).Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran
4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai
kalor 8900 kkal/m3. Produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat
digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk
keluarga yang berjumlah lima orang per hari.
Cara Membuat Biogas Dari Feses Sapi
1. Bahan Pembuatan Biogas Feses
Sapi
·
Feses sapi 18,9% Kg
Air 7 liter
EM4 210 gram
Air 7 liter
EM4 210 gram
2. Cara Pembuatan Biogas Feses Sapi
·
Memasukkan feses ke tempat penampungan sementara dan
tambahkan air sampai terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 dan aduk.
·
Lumpur dari bak sementara tadi dialirkan ke digester.
Pengisian pertama pada digester hingga penuh.
·
Menambahkan EM4 sejumlah 1 liter.
·
Setelah penuh, kran gas ditutup supaya sistem fermentasi dapat
berlangsung.
·
Digester secara continue di isi lumpur kotoran sapi sehingga
dapat menghasilkan biogas yang maksimal.
·
Kompos yang keluar dari digester sitampung dibak penampungan
kompos. Apabila mau dikemas aka harus dikeringkna terlebih dahulu.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kesimpulan
yang dapat diambil berdasarkan pembahasan sebagai berikut:
1. Limbah usaha peternakan berpeluang mencemari
lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Namun memperhatikan komposisinya, kotoran ternak
masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, media pertumbuhan cacing, pupuk organik,
gas bio, dan brike tenergi.
2. Pemanfaatan limbah ternakakan mengurangi
tingkat pencemaran lingkungan baik pencemaran air, tanah, maupun udara.
Pemanfaatan tersebut jug amenghasilkan nilai tambah yang bernilai ekonomis.
3. Potensi
bahan baku untuk pengolahan limbah sangat besar namun belum dimanfaatkan
secara
maksimal
3.2 Saran
Peternak kecil harus banyak mencari tahu tentang bagaimana
cara pengolahan limbah peternakanya agar menghasilkan pendapatan tambahan dari pengolahan
limbah tersebut dan perlunya dukungan pemerintah
agar cangkupa nuntuk pengolahan limbah peternakan menjadi merata.
DAFTAR PUSTAKA
Baba,
S. 2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Biogas di Sulawesi Selatan. Laporan
Penelitian Kerjasama LIPI denganYayasan
Al-Basyard Maros.
Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran
Limbah Organik Lain Sebagai Pakan atau
Media Produksi Kokon dan Biomassa Cacing Tanah Eiseniafoetidasavigry.Skripsi
Jurusan Ilmu Nutrisi dan MakananTernak. IPB, Bogor.
Setiawan,
BS. 2010. Membuat Pupuk Kandang Secara Cepat. Tim Penulis ETOSA IPB, Penebar
Swadaya,
Jakarta.
Sihombing D T H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha
Peternakan.Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian
Bogor
Sihombing.
2002. Pemanfaatan Limbah Ternak Ruminansia untuk Mengurangi
Pencemaran
Lingkungan. Makalah. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Soehadji, 1992.Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan
dan Penanganan Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan,
Departemen Pertanian. Jakarta.
Soeharsono, 2002.Anthrax sporadik, ta kperlu panik.Dalam
kompas, 12 September 2002, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/12/iptek/anth29.htm
(diakses 13 Oktober 2017).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar